Riset & Publikasi
Open Access Kian Menjadi Standar: Apa Artinya bagi Peneliti Indonesia

Gerakan akses terbuka (open access) telah bergeser dari idealisme menjadi arus utama. Berbagai kajian bibliometrik memperkirakan lebih dari separuh artikel ilmiah dunia kini dapat diakses publik tanpa berlangganan — didorong mandat lembaga pendana seperti cOAlition S di Eropa dan kebijakan akses publik di berbagai negara.
Indonesia: adopsi tinggi, model unik
Menariknya, Indonesia kerap disebut dalam studi internasional sebagai salah satu negara dengan proporsi publikasi akses terbuka tertinggi di dunia. Ribuan jurnal ilmiah nasional yang dikelola perguruan tinggi dan asosiasi profesi umumnya terbit secara diamond open access — gratis bagi pembaca sekaligus gratis bagi penulis — sebuah model yang justru kini dilirik dunia sebagai alternatif yang lebih adil.
Tantangan: biaya APC di jurnal internasional
Di sisi lain, publikasi akses terbuka di jurnal internasional bereputasi umumnya menuntut article processing charge (APC) yang bisa mencapai puluhan juta rupiah per artikel. Beberapa strategi yang dapat ditempuh peneliti:
- Memanfaatkan program waiver atau diskon APC yang disediakan banyak penerbit untuk penulis dari negara berkembang.
- Memilih jalur green open access: menerbitkan di jurnal berlangganan lalu menyimpan naskah akhir di repositori institusi.
- Menargetkan jurnal diamond OA bereputasi yang tidak memungut biaya sama sekali.
Arah perkembangannya jelas: ilmu pengetahuan bergerak menuju keterbukaan. Pertanyaannya bukan lagi apakah, melainkan bagaimana peneliti menyiasati transisi ini secara cerdas.


